Insight

Apa Itu HS Code? Cara Cek Kode Barang untuk Ekspor dan Impor

HS Code merupakan sistem klasifikasi barang dalam perdagangan internasional. Kenali fungsi HS Code, struktur digitnya, dan cara mencari kode barang yang sesuai sebelum melakukan ekspor atau impor.

Yusuf Rochman Hakim

Penulis Utama

4 mnt baca0 dilihat
Apa Itu HS Code? Cara Cek Kode Barang untuk Ekspor dan Impor
https://paketluarnegeri.com/apa-itu-hs-code-dalam-ekspor/
Bagikan:

Apa itu HS Code dan mengapa kode ini penting dalam kegiatan perdagangan internasional? HS Code merupakan sistem klasifikasi barang yang digunakan untuk mengidentifikasi berbagai jenis produk dalam aktivitas ekspor dan impor. Kode ini membantu otoritas kepabeanan menentukan klasifikasi barang, menerapkan ketentuan tarif, serta mengawasi arus perdagangan antarnegara.

Bagi eksportir dan importir pemula, memahami cara cek HS Code merupakan salah satu langkah penting sebelum melakukan pengiriman barang. Kode HS yang tepat membantu pelaku usaha memeriksa tarif bea masuk, ketentuan perdagangan, dan kemungkinan persyaratan khusus yang berlaku untuk produknya.

Di Indonesia, pencarian kode HS dapat dilakukan melalui sumber resmi seperti Indonesia National Single Window (INSW) dan referensi Buku Tarif Kepabeanan Indonesia (BTKI). Lantas, bagaimana cara mencari kode HS barang yang sesuai? Berikut penjelasan lengkapnya.

Apa Itu HS Code?

HS Code adalah singkatan dari Harmonized System Code, yaitu kode klasifikasi barang yang digunakan secara internasional dalam perdagangan lintas negara. Sistem ini dikembangkan oleh World Customs Organization (WCO) untuk membantu negara-negara mengelompokkan barang berdasarkan karakteristik dan jenisnya.

Pengertian HS Code tidak sekadar merujuk pada nomor identifikasi produk. Sistem ini juga menjadi dasar bagi berbagai keperluan kepabeanan, statistik perdagangan, penerapan tarif, dan pengawasan barang yang masuk atau keluar dari suatu negara.

Setiap produk perlu diklasifikasikan berdasarkan karakteristik yang relevan, seperti bahan penyusun, fungsi, bentuk, komposisi, serta tingkat pengolahan. Oleh karena itu, dua produk yang terlihat mirip belum tentu menggunakan kode HS yang sama.

Apa Fungsi HS Code dalam Ekspor dan Impor?

HS Code ekspor impor memiliki sejumlah fungsi penting bagi pelaku usaha maupun otoritas pemerintah. Memahami fungsi tersebut membantu perusahaan mempersiapkan transaksi internasional secara lebih terencana.

1. Membantu menentukan tarif kepabeanan

Kode HS digunakan sebagai salah satu dasar untuk menentukan tarif bea masuk dan ketentuan pungutan yang berkaitan dengan suatu barang. Dalam transaksi impor, besaran yang berlaku juga dapat dipengaruhi negara asal barang, fasilitas perjanjian perdagangan, nilai pabean, dan ketentuan perpajakan.

Karena itu, eksportir yang ingin menjual produknya ke luar negeri sebaiknya memahami bahwa tarif di negara tujuan belum tentu sama dengan tarif di negara lain.

2. Mengidentifikasi ketentuan dan perizinan barang

Klasifikasi barang dapat membantu pelaku usaha memeriksa apakah suatu produk terkena larangan atau pembatasan, memerlukan dokumen tambahan, atau harus memenuhi persyaratan tertentu. Ketentuan tersebut bergantung pada jenis barang dan peraturan yang berlaku di negara terkait.

3. Mendukung penyusunan dokumen kepabeanan

Informasi kode HS dibutuhkan dalam proses administrasi ekspor dan impor, termasuk pemberitahuan pabean yang relevan. Klasifikasi yang sesuai membantu menjaga konsistensi informasi barang dalam dokumen dan proses pemeriksaan kepabeanan.

4. Mendukung pencatatan statistik perdagangan

Penggunaan sistem klasifikasi yang terstandar membantu pemerintah dan lembaga terkait mengelompokkan data perdagangan. Data tersebut dapat digunakan untuk menganalisis arus ekspor-impor berdasarkan kategori komoditas.

Memahami Struktur Digit HS Code

HS internasional memiliki struktur dasar hingga enam digit. Indonesia dan negara lain dapat menerapkan digit tambahan berdasarkan sistem klasifikasi regional atau nasional yang berlaku.

Dalam sistem ASEAN, ASEAN Harmonised Tariff Nomenclature (AHTN) menggunakan klasifikasi hingga delapan digit. Indonesia menggunakan BTKI sebagai referensi sistem klasifikasi barang untuk kepentingan kepabeanan.

Secara umum, struktur kode berkembang dari kelompok barang yang luas menuju klasifikasi yang lebih terperinci. Namun, arti spesifik setiap digit harus diperiksa berdasarkan nomenklatur dan catatan klasifikasi resmi, bukan ditebak hanya dari angka yang terlihat.

Perlu diingat bahwa kode enam digit yang digunakan secara internasional belum tentu cukup untuk mengisi seluruh dokumen ekspor atau impor di suatu negara. Pastikan kode yang digunakan sesuai dengan format dan ketentuan negara terkait.

Cara Cek HS Code Barang di Indonesia

Cara mencari kode HS sebaiknya dimulai dengan mengidentifikasi produk secara lengkap, lalu memeriksa klasifikasinya melalui sumber resmi. Berikut langkah-langkah yang dapat digunakan oleh eksportir dan importir pemula.

1. Siapkan informasi produk

Sebelum mencari kode HS barang, kumpulkan informasi teknis mengenai produk yang akan diperdagangkan. Informasi ini membantu mempersempit pilihan klasifikasi dan mengurangi risiko memilih kode yang tidak sesuai.

  • Nama dan fungsi produk.
  • Bahan atau komposisi penyusun.
  • Bentuk, ukuran, dan karakteristik fisik.
  • Tingkat pengolahan atau proses pembuatannya.
  • Informasi teknis pendukung, seperti spesifikasi atau lembar data produk jika tersedia.

Semakin jelas deskripsi barang, semakin mudah proses pemeriksaan klasifikasinya. Nama dagang saja sering kali belum cukup untuk menentukan kode yang benar.

2. Buka portal resmi Indonesia National Single Window

Salah satu referensi yang dapat digunakan adalah Indonesia National Single Window (INSW), yang menyediakan Indonesia National Trade Repository (INTR). Portal tersebut memiliki fitur penelusuran komoditas berdasarkan kode HS atau uraian HS.

Untuk memulai pencarian, kunjungi halaman resmi berikut:

Buka Indonesia National Trade Repository (INTR)

Masukkan kata yang menggambarkan produk atau kode yang ingin diperiksa. Gunakan deskripsi yang spesifik dan bandingkan hasil yang muncul dengan karakteristik barang sebenarnya.

3. Periksa referensi BTKI Indonesia

BTKI atau Buku Tarif Kepabeanan Indonesia memuat sistem klasifikasi barang yang digunakan sebagai acuan dalam kegiatan kepabeanan di Indonesia. Referensi ini mencakup kode pos tarif, uraian barang, serta struktur klasifikasi yang disusun berdasarkan HS dan AHTN.

Pelaku usaha dapat memeriksa informasi terkait melalui halaman resmi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai berikut:

Lihat BTKI dan Tarif di situs Bea Cukai

Jangan hanya memilih hasil pencarian yang memiliki nama serupa. Baca uraian barang, catatan bagian atau bab yang relevan, serta ketentuan klasifikasinya sebelum menentukan kode.

4. Periksa tarif dan ketentuan yang berlaku

Setelah menemukan kandidat kode HS, periksa informasi tarif dan ketentuan lain yang relevan dengan transaksi. Untuk impor ke Indonesia, hal ini dapat mencakup bea masuk, pajak dalam rangka impor, fasilitas tarif preferensi, dan ketentuan larangan atau pembatasan.

Jika barang akan diekspor ke negara lain, lakukan pemeriksaan lanjutan terhadap sistem tarif dan peraturan negara tujuan. Kode lanjutan, tarif, dan persyaratan impor dapat berbeda antarnegara.

5. Verifikasi sebelum digunakan dalam dokumen

Apabila klasifikasi barang masih meragukan, jangan langsung menggunakan kode yang ditemukan di internet atau dari transaksi produk serupa. Cocokkan kembali karakteristik barang dengan referensi resmi dan pertimbangkan konsultasi kepada pihak yang kompeten dalam klasifikasi kepabeanan.

Langkah verifikasi ini penting karena kesalahan klasifikasi dapat berdampak pada perhitungan tarif, kelengkapan dokumen, dan pemeriksaan barang.

Contoh Informasi yang Dibutuhkan untuk Menentukan HS Code

Misalnya, sebuah perusahaan ingin mengekspor produk berbahan kakao. Mengetik kata "kakao" saja belum tentu menghasilkan klasifikasi yang tepat karena produk dapat berupa biji kakao mentah, kakao yang telah difermentasi, bubuk kakao, pasta kakao, atau produk olahan lainnya.

Masing-masing produk memiliki karakteristik yang berbeda sehingga perlu diperiksa berdasarkan uraian dan ketentuan klasifikasi yang berlaku. Contoh ini menunjukkan mengapa cara cek HS Code harus mempertimbangkan kondisi barang yang sebenarnya, bukan sekadar nama komoditas.

Hal yang sama berlaku untuk kopi, rempah-rempah, produk kelapa, furnitur, mesin, tekstil, dan barang manufaktur. Spesifikasi produk menjadi informasi penting dalam proses penentuan klasifikasi.

Apa Risiko Jika Salah Menentukan HS Code?

Kesalahan dalam menentukan kode HS dapat menimbulkan sejumlah kendala dalam proses perdagangan internasional. Dampaknya bergantung pada jenis kesalahan, karakteristik barang, serta ketentuan yang berlaku.

  • Kesalahan perhitungan tarif: kode yang tidak tepat dapat menyebabkan perhitungan kewajiban kepabeanan tidak sesuai.
  • Kendala dokumen: ketidaksesuaian kode dan uraian barang dapat memerlukan pemeriksaan atau perbaikan dokumen.
  • Persyaratan yang terlewat: pelaku usaha dapat keliru memahami perizinan atau ketentuan larangan dan pembatasan yang relevan.
  • Potensi keterlambatan: masalah klasifikasi dapat memengaruhi kelancaran proses kepabeanan dan pengiriman.

Oleh karena itu, jangan menentukan kode hanya berdasarkan perkiraan. Pastikan klasifikasi dan informasi pendukungnya sesuai dengan karakteristik produk serta peraturan yang berlaku.

Tips Memeriksa HS Code Sebelum Ekspor atau Impor

Agar proses klasifikasi barang lebih terarah, pelaku usaha dapat menerapkan beberapa langkah berikut:

  • Gunakan deskripsi produk yang lengkap dan akurat.
  • Utamakan sumber resmi pemerintah atau referensi klasifikasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
  • Periksa kode lengkap yang berlaku di negara tempat barang akan diproses.
  • Pastikan tarif dan persyaratan yang diperiksa sesuai dengan negara, asal barang, tujuan, serta waktu transaksi.
  • Simpan hasil pemeriksaan dan dokumen teknis produk sebagai referensi internal perusahaan.
  • Lakukan pemeriksaan ulang apabila spesifikasi produk atau ketentuan klasifikasi berubah.

Dengan langkah tersebut, perusahaan dapat mempersiapkan transaksi ekspor-impor secara lebih cermat dan mengurangi risiko kesalahan administrasi.

Kesimpulan

HS Code merupakan sistem klasifikasi barang yang berperan penting dalam perdagangan internasional. Kode ini membantu proses identifikasi produk, penentuan tarif, pengawasan kepabeanan, serta pemeriksaan ketentuan ekspor dan impor.

Cara cek HS Code yang tepat dimulai dari memahami karakteristik produk, mencari referensi melalui portal resmi seperti INSW dan BTKI, kemudian memverifikasi klasifikasi, tarif, serta persyaratan yang berlaku. Jangan hanya mengandalkan nama barang atau kode yang ditemukan pada sumber tidak resmi.

Bagi eksportir dan importir pemula, memahami HS Code merupakan salah satu fondasi untuk mempersiapkan transaksi internasional dengan lebih baik. Temukan panduan bisnis, ekonomi, dan perdagangan lainnya melalui BISNARA.

Yusuf Rochman Hakim

Ahli Bidang Export Import